kaku di jari manis sepi tidak bernyawa kemilau yang kian suram nyawanya tidak bangkit rohnya tidak berisi umpama mayat terkujur sepi di pinggir jendela sigadis merenung masa depan yang kian suram cincin belah rotan bergolek dicelah tiang kayu sepuh sembilan cahayanya gemersik memanah mata perawan bicara amukan jiwanya yang tak keruan harapan yang tak kesampaian arca cinta berderaibak kaca biasan takdir telah memisahkan linangan airmata yang tiada henti selembar warkah usang menjadi peneman hati sibelah rotan erat di genggaman jari tekad ia mewasiat segala janji si belah rotan tersimpul sebagai azimat diri baldu merah peneman setia di sisi hilang ditelan kabus malam bagai sang putera idaman hati tinggal lah si belah rotan di kamar besi bakal penentu nasib diri MILIK SIAPAKAH IA....KALI INI ~cinta bukan paksaan~ ianya lahir dari luhurnya perasaan
0 comments:
Post a Comment