HIJAB SANG PENYAIR DI KAKI BUKIT
Bagai alunan qasidah cinta
Memintal puing-puing angin
Yang kusut dikaki bukit
Berlagu sukma rindu perit
Bertiup bayu semilir berapit
Kuabadikan jasad ini dikaki bukit
Memukim segala usia yang bersisa
Menghitung arca suka duka digigi
stalaktit
Dan benih-benih cinta kian subur
mengharum
Berserakan kelopak mawar jingga
Yang gugur sebelum tua
Seakan mengejek hayat penyair duka
Yang tua sebelum waktunya
Hayat yang dimamah bayangan hitam
Tegar untuk penyair tidak berdendam
Menutup segala hijabnya yang kusam
Serah diri agar rohnya padam dalam
diam
Airmata yang beku di hujung kelopak
layu
Menjadi titisan embun dikala dinihari
Hembusan nafas yang kian menghela
lesu
Melenakan dirinya dikaki bukit bisu
“hijabnya telah tertutup”
@innurmustaqim@putrajaya
4.40ptg..
sekilas pandang melewati tinta hatiku pada HIJAB SANG PENYAIR DI KAKI BUKIT,... ku lahirkan atas rasa pasrah dan menyerah pada takdir... acapkali kasih sayangku tidak dihargai malah di permainkan sesuka hati,harus bagaimana untuk aku buktikan lagi..apa tidak cukupkah lagi kesetiaan,kejujuran dan kasih syg yg kupamerkan maka tergamak kau mendustai,memungkiri dan mengkhianati segala janji dan sumpah setia yg kau sendiri taburi untukku...
sesungguhnya aku tidak mengerti harus bagaimana...dalam kesulitan yg amat getir tika hubungan ini diuji, kau tiak betah untuk bersama-samaku mencari jalan dan ruang cahaya terang,malah kau hukum diri ini dengan hadiah perpisahan...tiada usaha untuk kau pertahankan cinta suci yg kita bina atas dasar kasih sayang dan pertemuan dari YA RABB... bermacam alasan kau taburi lantas terus melangkah pergi meninggalkan aku terkapai kapai mengheret segala janji dan harapan mu...
kesempatan apa yang kau lemparkan atas kebaikan dan tulusnya hatiku dlm perhubungan ini...dimana salah ku...YA ALLAH...tika hati ini hampir ingin mengecap erti bahgia, kau duga kesabaran ku lagi...tak usah dihitung berapa juta titisan airmata,tika hati remuk bagai kaca terhempas,bukan sekali malah dua kali aku di hukum begini... YA ALLAH bukan aku menyesali dgn ujianmu,sekadar semua ini membuatkan aku "mati" untuk insan bergelar lelaki...cukuplah sekadar waktu ini...akan ku mukimkan segalanya di kaki bukit...mencari ruang cahaya untuk ku meneruskan hidup ini...syukur padaMu ya Allah..masih belum terlewat untukku bangkit kembali...
sekilas pandang melewati tinta hatiku pada HIJAB SANG PENYAIR DI KAKI BUKIT,... ku lahirkan atas rasa pasrah dan menyerah pada takdir... acapkali kasih sayangku tidak dihargai malah di permainkan sesuka hati,harus bagaimana untuk aku buktikan lagi..apa tidak cukupkah lagi kesetiaan,kejujuran dan kasih syg yg kupamerkan maka tergamak kau mendustai,memungkiri dan mengkhianati segala janji dan sumpah setia yg kau sendiri taburi untukku...
sesungguhnya aku tidak mengerti harus bagaimana...dalam kesulitan yg amat getir tika hubungan ini diuji, kau tiak betah untuk bersama-samaku mencari jalan dan ruang cahaya terang,malah kau hukum diri ini dengan hadiah perpisahan...tiada usaha untuk kau pertahankan cinta suci yg kita bina atas dasar kasih sayang dan pertemuan dari YA RABB... bermacam alasan kau taburi lantas terus melangkah pergi meninggalkan aku terkapai kapai mengheret segala janji dan harapan mu...
kesempatan apa yang kau lemparkan atas kebaikan dan tulusnya hatiku dlm perhubungan ini...dimana salah ku...YA ALLAH...tika hati ini hampir ingin mengecap erti bahgia, kau duga kesabaran ku lagi...tak usah dihitung berapa juta titisan airmata,tika hati remuk bagai kaca terhempas,bukan sekali malah dua kali aku di hukum begini... YA ALLAH bukan aku menyesali dgn ujianmu,sekadar semua ini membuatkan aku "mati" untuk insan bergelar lelaki...cukuplah sekadar waktu ini...akan ku mukimkan segalanya di kaki bukit...mencari ruang cahaya untuk ku meneruskan hidup ini...syukur padaMu ya Allah..masih belum terlewat untukku bangkit kembali...
0 comments:
Post a Comment