bergolek di celah tikar usang longlai dari genggaman tangan yang kejangselembar kertas putih peneman tintanya yang merintih
di pondok buruk itu hatinya tersemat seribu rasa satu jiwa ada cita yang ingin dicinta ada kasih yang ingin dirintih namun... hajatnya ditelan kabus subuh melayan angannya sepintal buih dijapai pelita minyak tanah itu pen dakwat hitam kini ditangan selembar kertas putih kini kemas digenggaman berjuta bunga cinta mewarnai kepala lilitnya yang dulu hitam wangian kasturi kembali menerawang legar pondok itu
sinar mentari menerobos lubang kecil menyinari paginya yang dulu gelap dan malap bauan hutan hijau dan deru air sungai kembali berbisik satu malam hikayat satu cinta di pondok buruk itu kertas putih membawa makna suratan hidupnya kini bernyawa ~aku tak pernah mati~ nyawaku bernafas di sini~
di celah kemilau senja berkejaran anak-anak desa tak mengenal erti payah derita saling ketawa bergurau senda biarpun kepuk beras hanya seinci ternganga di celah perigi batu girang anak-anak mandi berlagu tak hirau air mengalir hamis berbau asal anak kampung berhati padu biarpun segayung sehari membasuh pilu di celah dapur kayu sabar anak-anak menunggu deras menggelegak perut hempedu tak peduli asalkan beralas batu-batu biarpun berenam kongsi sesudu di celah pekat malam riang berhikayat seribu gurindam tak kisah nyamuk agas bermukim di kulit kusam biar birat berkudis tak kunjung padam berteman cahaya samar pelita ayam di celah gerobok kayu bersusun pakaian kelam kelabu ada yang carik bak roti kirai pak Abu masih beralas di badan umpama yang baru biarpun lipas hitam jemu bertamu di celah lumpur sawah riang anak-anak membawa arah berteman bubu dan tempang sebuah menjerat ikan habuan sekawah biarpun di rumah menanti pasrah di celah atap pohon rumbia apakah ada masa depan dan cita hikayat gurindam malam yang hanya sandiwara penawar derita kala yang lain beraja zuriat kepapaan pepijat masa tak siapa peduli kerana menjulang harta anak-anak girang di sawah berpesta itulah dunianya kepompong syurga
THMK 3 Penulis : Ainnur Mustaqim Tarikh : 22/2/2013 Tajuk : KEPOMPONG BERDARAH Cindai sutera nan indah menyelimuti malam pesta berdarah kepompong rama-rama menjalar haluan tak berarah melakar impian nafsu bermata merah
Pohon serakah berbisik ganas melampiaskan impian syaitan di jelatang panas sayap rama-rama gugur ditindas angkara selingkuh kunang-kunang yang amat buas
Malam merangkak tua usia rama-rama masih berpesta ria tatkala mentari menyirna warna terbang kunang-kunang menebar rasa
Di bawah perdu pelangi jingga menanti musim salju yang bakal tiba kepompong lunyai di bawa bayu hiba gugur sayapnya dicarik permainan noda
Tangisan lara yang tak berjiwa lewat mengintai kamar rahsia tertutup pintu buatmu rama-rama kepompong merah bernisankan tanda
@innurmust@qim 22/2/2013 1.30 ptg putrajaya Syukur kehadrat mu Ya Allah...peluang kali ini berpihak ke atas nukilan ku buat julung2 kali...percubaan saat terakhir kerana sanggup mencabar minda memilih tajuk bertemakan pelacuran...terimakasih kepada panel juri kerana memilih puisiku dan sesungguhnya terus membakar semangat ku untuk tidak jemu menulis dan menulis..garapan dari pemerhatian mata hati akan terus menyuntik jiwaku untuk mengaspirasikannya ke layar putih..bersama berkongsi suka duka sepanjang melayari rentetan kehidupan yang akan bernoktah jua akhirnya..salam ingatan buat sahabat baikku SITI NUR (nz) yang banyak membangkitkan aku semula dari terus berdiam diri di kepompong buatan ku sendiri...terimakasih sahabat..mudahan apa yang disampaikan akan memeberi manfaat kepada semua dan inilah nawaitu ku selama ini...hayatilah puisi ku dan galilah maknanya kerna ada sesuatu yang tersirat yang ingin disampaikan di sebaliknya...muhun Allah swt mencambahkan lagi idea2 dan ilham2 yang bernasagar dapat ku gubah menjadi puisi indah dalam tujuan menjurus pada kebaikan...pandanglah dengan mata hati bukan meyakini membuta tuli...jazakallah hu min kum...
asalamualaikum.... melepaskan keluhan yang amat panjang,tenat dan sendat...Ya Allah..hanya Engkau yang mengetahui segala perancangan ke atas diriku...aku tidak menolak mahu pon menyambutnya namun aku harus akur dengan ketentuan ini...di kala rajukku kian menyurut,di kala lukaku kian terubat, di kala laraku hampir terawat...KAU mengujiku sekali lagi ...YA RAHMAN YA RAHIM...di setiap lafaz kalimahmu meniti di bibirku, apakah anugerah maupun ganjaran yang KAU tawarkan sekali lagi untukku hitung,bakal ku tempuhi..YA ALLAH YA RABB...aku hanyalah khalifahmu yang amat2 lemah yang masih byk kekurangan berbanding kelebihan...dugaanMU kali ini ternyata amat hebat bakal ku tempuhi...Ya Allah...apakah ada ruang pencerahan bakal ku terima selepas ini..apakah anugerahMU ini adalah yang terakhir dan terbaik buat ku...berilah aku kekuatan YA ALLAH... kehilangan ini ternyata telah membawa diri ini untuk lebih dekat denganMU ya Allah...tiap kali sujudku...begitu hampir rasanya aku denganMU...inilah anugerah yang paling terindah seumur hidupku...di sepertiga malam kita bertemu untukku ku luahkan segala rasa yang menjeruk diri selama ini,ku mohon penawar agar kesakitan ini hilang dan juga ku muhun kekuatan agar aku bisa sempurnakan segala tanggungjawabku terhadapMU... aku benar2 keliru dengan anugerah ini Ya Allah...adakah kehadirannya bakal menambahkan lagi luka lama ataupun sebaliknya....biarpon ianya sama sekali di luar jangkaan akal kewarasan ku namun..hakikatnya inilah yang Kau beri kepada ku...abg *...mengapa harus aku menerima semua ini di kala segalanya hampir ku lenyapkan...kehadiranmu menagih cinta ku adalah kejutan yg amat hebat buat ku....mengapa ini terjadi...adakah Allah memberikan apa yg aku minta selama ini tanpa mengira siapa??...Ya Allah..bantulah hambamu ini bagi meleraikan apa yang tersirat di sebalik semua ini....aku perlu mukimkan disini buat sementara waktu..terlalu sarat untuk ku saratkan perjalanan ini namun segalanya bakal bermula.....bantulah aku dalam istikharah ke pada MU...